Songsong Bonus Demografi, PS Walet Puti Bentuk Kepribadian Gen Z Sejak Dini
JAKARTA – Saat ini Indonesia sebagai sebuah bangsa sedang mempersiapkan periode Indonesia Emas. Pada tahun 2045, tepat ketika berusia 100 tahun, Indonesia akan menikmati puncak bonus demografi.
Saat itu, mayoritas penduduk Indonesia adalah kalangan produktif, berusia 30 hingga 55 tahun. Bonus demografi ini akan menghadirkan Indonesia masuk ke jajaran negara forward lalu berpendapatan tinggi.
Demi meraih cita-cita besar ini, pemerintah sama-sama para pelaksana negara, sedang mempersiapkan generasi muda, khususnya Generasi Z atau Gen Z. Definisi Gen Z adalah penduduk Indonesia kelahiran tahun 1995 hingga 2009.
Salah satu bentuk persiapan Gen Z menyongsong Indonesia Emas adalah integrasi kekuatan mental, kecerdasan emosional, kecakapan fisik, dan juga integritas moral. Salah satu proses untuk memunculkan kekuatan mentalitas, kecerdasan emosi, kekuatan fisik, juga integritas moral adalah mengenalkan bela diri pencak silat.
Pencak silat merupakan seni bela diri tradisional asli Indonesia. Aktivitas olah raga sekaligus bentuk budaya nusantara ini, miliki positif bagi generasi muda.
Pencak silat merupakan sarana pembentuk karakter, mendirikan fisik juga mental, meningkatkan pemahaman akan Ketuhanan kemudian keagamaan, menumbuhkan kesadaran sosial, dan juga menanamkan kedisiplinan.
Salah satu perguruan silat terkemuka di dalam Indonesia adalah Perguruan Silat Warisan Leluhur Tunggal Pusaka Tradisional Indonesia (PS Walet Puti). Perguruan ini berdiri sejak Januari 1970, dalam Kisaran, Sumatera Utara.
Hingga pada waktu ini, total murid PS Walet Puti mencapai 16.000 orang, tersebar di tempat 18 provinsi di area seluruh Indonesia kemudian sudah tercatat pada rekor MURI sebagai Perguruan Silat dengan jurus terbanyak.
Perguruan Silat Walet Puti mengajarkan filosofi hidup pada bentuk nilai-nilai ketekunan, keberanian, disiplin, kemudian rasa hormat. Melalui latihan yang digunakan intensif juga terstruktur, anggota PS Walet Puti belajar menguasai pergerakan fisik, dan juga mengasah mental kemudian pantang menyerah, merancang ketahanan terhadap tekanan, lalu mengembangkan kemampuan memecahkan persoalan.
“Anggota kami akan menjalani proses untuk menjalani individu, bukanlah belaka kuat secara fisik, namun juga cerdas di bertindak, mempunyai hati yang digunakan tulus serta budi pekerti luhur,” kata Ketua Pelatih Walet Puti Ibukota Selatan, Andy Mangaritua Sirait, Hari Senin (9/9/2024).